Skip to main content

Slilit sang Kiai

Slilit sang Kiai dari Emha Ainun Najib

Cerita pendek ini dikarang oleh Budayawan Emha Ainun Najib, sebenernya sudah lama aku baca, jadi detail ceritanya gak akan sama persis dengan apa yang ada dalam ingatanku, hanya sedikit dimodif saja. Ceritanya sih hanya beberapa lembar saja tapi maknanya memang luar biasa menurut saya. Kehidupan yang fana dan terus berubah ini kadang menjerat pola pikir atau dasar dasar kehidupan yang dapat menyimpang dari tuntunan. Semakin modern dan komplek jaman ini maka semakin modern juga jebakan syaitan dalam melakukan aksinya buat menggoda umat manusia.

Seorang kiai yang sungguh berkehidupan agamis dan menghindari kehidupan manusia pada umumnya. Kesederhanannya, sifatnya sungguh mengikuti sunah sunah rasul. Sudah berilmu, dermawan dan ramah pada orang lain. Itulah sifat dasar sang kiai ini dalam kesehariannya. Mengajar ngaji tentulah sudah menjadi kehidupan kesehariannya dalam menyebarkan gaya hidup yang islami.

Suatu ketika sampailah batas kontrak usia sang Kiai ini untuk menjalani kodrat kehidupan di dunia ini, dan masuklah ia ke dalam alam kubur yang banyak ditakuti umat manusia ini karena adanya siksa kubur bagi yang hidupnya tidak benar benar lurus dalam artian sesuai aturan kang mbahu rekso, Allah Swt.

Menganggap kehidupannya saat di dunia ini sebagian besar sudah memenuhi syariat Islam tentu saja sang Kiai merasa tidak gentar menghadapi pertanyaan 2 malaikat kubur Munkar dan Nakir. Dalam wawancara dengan 2 malaikat Munkar dan Nakir ini antara lain ditanyai pertanyaan2 seperti berikut:

Menurut sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits shahih dari al-Barra’ bin ‘Azib r.a. yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dll. (lihat Shahih Sunan Abu Dawud no. 3979), yang diajukan oleh sepasang malaikat penanya di alam kubur itu adalah pertanyaan:

Siapa Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapa orang yang diutus kepada kalian itu?
Apa amal perbuatanmu?
Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?

Sedangkan menurut sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits shahih dari Abu Barzah r.a. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (lihat Shahih Sunan Tirmidzi no. 1970), yang ditanyakan pada hari kiamat:

Untuk apa umurmu kau habiskan?
Apa yang kau lakukan dengan ilmumu?
Dari mana kau peroleh hartamu?
Untuk apa kau membelanjakannya?
Untuk apa tubuhmu kau gunakan?

Adapun menurut sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits shahih dari Mu’adz bin Jabal r.a. yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani (lihat ash-Shahihah no. 946), yang ditanyakan pada hari kiamat:

Untuk apa umurmu kau habiskan?
Untuk apa kau gunakan masa mudamu?
Dari mana kau peroleh hartamu?
Untuk apa kau membelanjakannya?
Apa yang kau lakukan dengan ilmumu?

Dan lain sebagainya sampai akhirnya pertanyaan perbuatan kecil yang kita lakukan secara tidak sadar.

“Hai kiai, sewaktu kamu pulang dari kenduri, apa yang kamu lakukan sehingga dicatatan kami, menyulikan dirimu untuk dapat lolos dalam (TUMS) tes uji masuk sorga ini.” Kata salah seorang malaikat.

“Aku tidak melakukan apa-apa, biasanya aku terus pulang dan membawa berkat kenduri untuk diberikan pada anak-anak dan istriku,” sahut sang kiai.

“Hai kiai, ketahuilah bahwa setiap kamu pulang kenduri, kamu sering mengambil potongan tali pagar bambu untuk membersihkan slilitmu, tanpa ijin yang punya pagar, karena perbuatanmu tali itu jadi rusak dan pagar jadi lepas karena kamu potong sebagian.”

Karena keteledoran sang kiai tersebut, maka gagalah sang kiai melalui TUMS tersebut dengan mulus.

Comments

Popular posts from this blog