Posisi Tertinggi

Rebutan jabatan, rebutan rizki, rebutan posisi, rebutan kursi selalu terjadi di arena kehidupan kita, tapi semua sesungguhnya sudah ada yang mengatur. Kita tidak usah saling berebut, saling menjatuhkan lawan karena itu bisa menjadi dosa, dosa yang tertanam dalam kehidupan kita yang akan ditagih buat dibayar pada kehidupan nanti di akhirat Insya Allah. Untuk sekedar menggambarkan tentang keberadaan kita coba simak cerita dibawah ini:
Pada suatu hari ada seorang tukang batu, tiap hari dia bertugas memecahkan batu batu, yang menggunung dan angkuh, semua jenis batu-batuan bisa dia pecahkan, dan dibentuk menjadi barang barang yang berharga seperti batu marmer. Pada pagi hari yang cerah si tukang batu ini sedang jalan jalan, sewaktu masih pagi hari rasanya enak hangat, udaranya segar, semakin lama makin terasa panas. Makin siang makin panas dan terasa sangat mengganggu dan gak kuat terhadap panas. Terus tukang batu ini berpikir, “wah lebih enak jadi matahari, hanya memanasi orang dan yang lain lain.” Terus dia berdoa, dalam doanya ia memohon untuk jadi Matahari.

Ternyata doanya dikabulkan, maka jadilah matahari. Setiap hari semua dipanasi, disinari, dengan gembira melakukan tugasnya, sampai pada akhirnya datanglah mendung dan hujan, dan habislah panas matahari ini karena tertutup mendung dan tidak mampu memanasi lagi, bahkan bisa seharian tidak berfungsi.

Kemudian diapun tidak puas dengan kedudukannya sebagai Matahari, maka diapun berdoa lagi untuk bisa menjadi mendung, dan doanya dikabulkan dan jadilah ia sumber hujan alias Mendung. Dengan bangganya si Mendung ini melakukan tugasnya, setiap kali matahari muncul maka si mendung siap siap dengan aksinya mengumpulkan awan awan guna menutupi aksi matahari, dan puncaknya terjadilah hujan. Semua barang dia hujani, sampai sampai pohon bisa patah karena menahan berat air pada setiap lembar daun. (Kalau di negara eropa tiang tiang listrikpun bisa tumbang karena menahan berat salju yang menempel dikawat listri dan di tiang listrik.) Tapi aksinya agak terhambat, rupanya batu batu yang menjulang dengan angkuhnya tetap tidak bisa dia pecah dengan air hujannya. Tetap saja batu ini kuat berdiri dengan kokoh. Akhirnya sang hujan menyerah, tampaknya dia terpeleset, dan berdoa lagi untuk menjadi Tukang Batu seperti semula yang bisa memecah segala macam batu batuan.

Begitu ceritanya, intisarinya mungkin bisa dipikir sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Write your comments here, better base on the article discussed or nothing... or in English Computer Language (Bahasa Indonesia juga boleh he... he )