Dunia Oh Dunia

Dunia emang serba aneh, ada dunia yang serba asli, hitung dan untung. Mau itu berupa ilmu, tapi maunya kan ilmu itu yang bisa buat menopang hidup. Pedidikan juga kan begitu, ujung-ujungnya juga buat cari duit, memang sih mahasiswanya buat mencari ilmu yang bisa begini dan begitu, tapi dosennya ya cari duit dari ngajari mahasiswa itu. Memang sih sewaktu mengajar bisa konsentrasi hitung ini, dari ini bisa begini, dari itu bisa dibuat ini, tapi begitu akhir bulan baru itung itungan duit. Ah duitnya kurang banyak.

Yah begitulah dunia, terlalu kompleks dan banyak yang bilang ujung ujungnya duit. Tapi sebenernya belum tentu juga sih. Tapi kalau kita mengikuti dunia yang materialistis, ya tentu saja ujung ujungnya duit. Di bandung banyak sekali berdiri industri percetakan, mencetak plastik, mencetak kertas dan mencetak apa saja, guna menghasilkan uang. Mengemas ini kemas itu, dan akhirnya membuat kemasan palsu. Kenapa palsu? Karena dari yang palsu itu akan menghasilkan banyak duit. Dengan hanya modal kemasan palsu, orang bisa membuat produk murah kemudian dijual mahal. Cuman modal bungkus saja kemudian diisi barang palsu, dan bisa jual mahal.

Banyak sekali barang palsu beredar, dan para pedangan juga merasa ikut untung dengan barang barang palsu tersebut, dan yang dirugikan seringkali adalah para konsumen. Konsumen dirugikan karena produk yang dibeli tidak berkualitas seperti produk yang semestinya. Silet Tiger palsu, silet goal palsu, kapas sari ayu palsu, lampu philips palsu, pinsil staedler palsu, pinsil faber castle palsu, pulpen standar palsu dan masih banyak lagi barang barang palsu beredar. Walaupun pembuatnya menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari yang asli, tapi sampai di konsumen bisa saja harga sama dengan yang asli atau hanya beda sedikit saja, paling 500 rupiah hingga 1000 rupiah saja dari harga yang asli. Nah makanya konsumen jadi sangat dirugikan dengan adanya barang barang palsu yang beredar ini.

Tidak semua barang palsu yang beredar ini jelek, ada kalanya juga punya kualitas yang baik, bahkan mirip dengan yang asli. Tapi bisa menjual dengan harga yang jauh lebih murah. Kalau begini masalahnya, berarti pihak industri mengambil untung terlalu besar, sehingga sangat membuka celah bagi para pemalsu untuk membuat produk tiruan dengan harga jauh dibawah yang asli. Membuat merk lain mungkin terlalu lambat ngetopnya sehingga perkembangan bisnisnya tersendat sendat. Membuat yang palsu jauh lebih cepat lakunya, jadi emang agak susah untuk memberantas beredarnya barang palsu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Write your comments here, better base on the article discussed or nothing... or in English Computer Language (Bahasa Indonesia juga boleh he... he )