Langsung ke konten utama

Jaman Makin Maju Makin Susah

Jaman sekarang makin maju kok makin susah ya, soalnya apa apa naik apa apa mbayar. Apa apa harus beli sampai sampai kencing juga bayar. Kalau mau kembali ke jaman dulu lagi juga sudah gak bisa, mau masak pakai kayu, sekarang pohon pohon sudah makin jarang bisa sih bisa tapi usaha cari kayu bakar harus extra. BPJS sekarang malah jadi wajib tiap KK padahal tadinya kan yang perlu saja yang ikut asuransi, malah terkadang jadi doubel karena di kantor sudah ikut asuransi yang lain, ini kan malah pemborosan. Apalagi bagi yang punya kendaraan dan bikin sim bisa jadi tripel asuransinya karena ikut Asuransi Kecelakaan. Itulah yang bikin berat pengeluaran. Beban rakyat jadi makin tinggi karena ditambah dengan kenaikan BBM, Listrik, Air dan Gas. hal ini jelas memicu kenaikan harga harga yang lain termasuk sembako, la gak mungkin sembako gak naik bagaimana nanti nasib petani yang harus menanggung kenaikan harga tapi tidak menambah pemasukan dari harga jual sembako. Jadi ingat slogan Suharto yang sering dipasang di angkot angkot.


Program pemerintah Jokowi sebenernya sangat bagus, bagaimana gak bagus wong sudah dipikir oleh sekian ratus orang orang pilihan. Hanya saja kalau program pemerintah yang begitu padat mau direalisasi dalam waktu 5 tahun jelas gak mungkin, kalau terpilih lagi nanti jadi 10 tahun. Jelas akan sulit. Jadilah yang tercipta adalah beban pengeluaran yang membengkak yang mungkin harus diganti dalam waktu 5 tahun harus ketutup. Walaupun sebetulnya pemasukan pemerintah sudah digenjot dengan menaikan pemasukan pajak yang begitu fantastis, dan kenaikan harga dasar BBM, Listrik, Air dan Gas yang membuat rakyat makin terseok seok berjalan. Rasanya beban biaya pemerintah belum bisa ketutup.

Orang banyak yang berpendapat, tapi boleh juga kalau kita punya pendapat yang berbeda. Mungkin pemerintah sedang mengejar ketinggalan jaman dari bangsa bangsa disekitar Asean yang terlihat sudah lebih maju. Mereka terlihat sudah melangkah kedepan disegala bidang. Pemerintah seharusnya mengandalkan sumber daya yang paling besar jumlahnya, kalau di Indonesia kan jumlah manusianya sudah terlalu besar. Sayangnya pemerintah hanya mengandalkan sumberdaya yang sudah jadi atau berada, dan mengambil jatah darinya, itu sih biasa dilakukan oleh para Preman, memang sangat gampang dan hasilnya nyata, tapi itu hanya sementara. Tapi sebenernya banyak sumberdaya manusia yang berkualitas yang mungkin sudah berusia diatas 55 tahun, mereka masih mampu menyumbangkan ide dan malah masih bisa mengkoordinasi pekerjaan.

Selain dari pembangunan pembangunan infrastruktur yang mungkin terlihat lebih nyata dan bisa mendorong kemajuan daerah setempat, dengan mendatangkan infestor dan meningkatkan pemasukan ekonomi, tapi yang lebih mungkin terjadi adalah akan banyak mendatangkan pengangguran mereka yang berusia diatas 50 tahun nantinya. Seperti yang terjadi sekarang ini, karena mereka tidak disiapkan untuk mandiri. Pendidikan sumberdaya manusia menjadi sangat penting dan lebih berkesinambungan dalam hal ikut memajukan bangsa walaupun mungkin berjalan lebih lambat, atau malah bisa mendorong lebih cepat kalau pemanfaatannya dengan baik dan benar.

Penyiapan pendidikan sumberdaya manusia seharusnya lebih kearah sektor pendidikan informal bukan pendidikan formal yang notabene hanya ampuh untuk sementara waktu, setelah mereka berusia diatas 55 tahun mereka sudah tidak bisa bekerja dan berkarya nyata lagi. Pendidikan informal lebih bersifat berkesinambungan dan munngkin butuh ketekunan dan keseriusan. Sekolah bisnis pendidikan informal perlu digalakkan jadi yang lulus dari sekolah tersebut langsung sudah punya usaha yang jalan, yang riil untuk menjadi sumber penghidupan mereka. Sekolah bisnis jenis ini memerlukan dosen dosen dari berbagai disipilin ilmu dan berpengalaman, jadi mungkin butuh biaya yang besar karena ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang nyata, seperti membangun bengkel mobil, atau membangun usaha pelapisan logam seperti Chrom Plating dan Nikel Plating, atau usaha dibidang pertanian yang integrated, menanam padi dan jeraminya bisa digunakan untuk budidaya jamur merang yang dalam bahasa latinya Volvariel Volvacea. Atau bisa ditujukan untuk industri kecil atau industri rumahan dengan membuat berbagai macam Lem atau adhesive. Tentunya sekolah seperti itu butuh biaya yang tinggi yang seharusnya dikelola oleh pemerintah, karena sekolah tersebut sudah integrated, jadi begitu lulus sudah punya usaha mandiri. Namanya juga sekolah bisnis jadi sekaligus diajarkan cara memasarkan produknya.

 Lem Kayu

Usaha ternak ayam atau burun puyuh juga perlu pemikiran yang serius jika ingin sukses dan bisa mencapai jumlah ternak yang besar (puluhan ribu ekor). Tidak sederhana dalam aplikasinya karena pada kenyataannya banyak sekali kendala yang harus dihadapi. Dari mulai pemilihan tempat, pembangunan kandang, bentuk tempak pakan dan bentuk tempat minum ayam (chicken drinker) tidak asal asalan saja karena bisa berefek pada kelanjutan usaha.


Tempat minum Ayam

Pendidikan informal yang ada sekarang ini tidak atau kurang berkualitas, sehingga dalam aplikasinya mereka sering gagal pada akhirnya. Seperti yang dilakukan oleh Disnaker dengan membentuk lembaga pelatihan tenaga kerja yang tidak bermutu menurut saya. Mereka bukan tidak bisa menerapkan hasil pelatihan tapi tidak mendalam, jadi pada aplikasinya adalah tidak menguntungkan, ya jadinya gak ada yang mau usaha dari hasil pelatihan mereka. Pemerintah sebenarnya sih sudah terlihat ada usaha kearah sana tapi kesanya tidak serius jadi hasilnya kok gak kelihatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini