Menjelang Lebaran Harga Sayuran Naik

Dari Pikiran Rakyat 15 September 2009.

SEORANG petani memanen selada di lahan pertanian Wangunharja Lembang Kab. Bandung Barat, Senin (9/3). Memasuki musim hujan, harga sejumlah komoditas sayuran seperti selada cenderung turun dari harga normal di atas Rp 3.000,00 per kilogram menjadi Rp 2.500,00 per kilogram.



BANDUNG, (PR).-Hujan deras yang kerap turun belakangan ini mengakibatkan berbagai komoditas sayuran mengalami kenaikan harga, kecuali tomat komoditas sayuran seperti cabai merah, kentang, wortel, cabai hijau, dan bawang merah mengalami kenaikan cukup berarti. Kenaikan ini sebagai akibat pasokan yang terbatas akibat banjir musiman di daerah pemasok sehingga jalur distribusinya terhambat.
Selain itu, tingginya curah hujan mengakibatkan banyak komoditas sayuran yang membusuk, sehingga pasokan dari sentra pertanian menjadi berkurang, apalagi distribusi sayuran terhambat banjir, yang mempercepat pembusukan sayuran hingga komoditas sayuran jumlahnya terbatas yang kemudian mendorong harganya naik.
Dalam pantauan "PR", Senin (9/3), harga bawang merah di Pasar Gedebage dan Pasar Sederhana, saat ini naik dari Rp 8.000,00/kg menjadi Rp 12.000,00/kg, cabai merah tanjung berkisar Rp 12.000,00/kg dari Rp 8.000,00, cabai merah tewe juga mengalami kenaikan dari Rp 9.000,00/kg menjadi Rp 13.000,00/kg, cabai merah keriting naik Rp 10.000,00 dari harga asalnya Rp 6.000/kg dan harga cabai hijau berkisar naik dari Rp 5.000,00 jadi Rp 6.500,00
Bahkan menurut Neng Komalasari (27), penjual sayuran di Pasar Sederhana, saat ini, harga cabai rawit merah sedang melonjak hebat. "Biasanya saya menjual Rp 20.000,00/kg, namun kini jadi Rp 30.000,00/kg. Berbeda dengan cabai rawit hijau yang lebih murah meski juga mengalami kenaikan cukup tinggi dari Rp 5.000,00/kg menjadi Rp 12.000,00/kg," katanya.
Menurut Icih (45), salah seorang pedagang sayuran di Pasar Induk Gedebage, jika musim hujan tiba yang diikuti banjir, dengan sendirinya produktivitas menurun. "Pasokan barang dari penyalur berkurang, sehingga harga yang ditawarkan pun menjadi mahal," katanya.
Harga tersebut, katanya, dipatok oleh penyuplai sayuran dari Banjar dan Brebes. Mereka beralasan, kenaikan harga terjadi karena stok barang terbatas akibat banjir merendam sebagian besar areal penanaman. Jalur distribusinya pun terlambat karena rute jalan menuju Bandung terganggu banjir.
Harga tomat turun
Sementara itu, di Pasar Sederhana, kentang dihargai Rp 5.000,00 atau mengalami kenaikan dari harga sebelumnya yaitu Rp 3.500,00/kg. Wortel pun demikian, mengalami kenaikan Rp 1.000,00 dari Rp 3.000,00/kg menjadi 4.000,00/kg.
Berbeda dengan komoditas lainnya, harga tomat di kedua pasar justru mengalami penurunan. Dalam sebulan ini, petani (tomato farm) menjual tomat tewe Rp 3.000,00/kg ke bandar sayuran atau distributor. Padahal biasanya tomat dijual Rp 5.000,00/kg dan bahkan pernah mencapai Rp 8.000,00/ kg," kata Imin.
Sementara itu, harga di pasar Pasar Induk Gedebage, tomat dihargai Rp 4.000,00/ kg sejak tiga minggu lalu. Sedangkan di Pasar Sederhana dihargai Rp 5.000,00/kg.
Diakui Imin (45), petani tomat dari Lembang, saat ini panen tomat melimpah. Namun, pesanan dari distributor sayur maupun pasar justru menurun, akibatnya banyak tanaman tomat yang dibiarkan tidak dipanen sehingga busuk. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, ia lalu menjual murah harga tomatnya.
Menurut Jaya (43), pedagang sayuran di Pasar Sederhana, harga tomat mengalami penurunan drastis dari akhir tahun. "Dulu pernah dihargai Rp 11.000,00/kg, lalu turun jadi Rp 8.000,00 ketika Lebaran. Sekarang di kisaran Rp 5.000,00/kg karena barangnya banyak," katanya.
Oleh karena itu pula, Jaya kemudian mengakali penjualan tomatnya, terutama tomat tewe. "Biasanya saya menyediakan hingga 20 kg tomat/hari, akhir-akhir ini paling hanya setengahnya saja. Tujuannya agar dagangan saya tidak ada yang busuk, meski banyak pelanggan yang kecewa karena tomatnya sudah habis padahal masih siang," ucapnya menjelaskan. (Kalau dah turun drastis tomat tomat itu paling dibuat saus tomat, jadi lebih awet).
Artikel lain:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Write your comments here, better base on the article discussed or nothing... or in English Computer Language (Bahasa Indonesia juga boleh he... he )